Implementasi Metode Problem Solving (Pemecahan Masalah) dalam Pembelajaran Matematika


Dalam pembelajaran melalui pemecahan masalah, peran guru lebih banyak sebagai fasilitator dan pemotivasi siswa. Karena masalah (soal) yang diberikan atau yang ada dalam buku siswa itu merupakan soal (masalah) yang jawabannya tidak tunggal, maka kejelian guru dalam mengevaluasi hasil belajar sangat ditekankan.untuk menilai hasil belajar pemecahan masalah tidak cukup hanya sekali ujian tulis pada akhir kegiatan. Diperlukan penilaian yang berkelanjutan, misalnya melalui kuis, tugas rumah, dan pembuatan jurnal (proyek). Dan yang tidak kalah penting adalah pengamatan terhadap perilaku siswa selama proses pembelajaran berlangsung, kususnya dalam diskusi kelompok.

Dalam proses pembelajaran matematika, harus dipahami bahwa matematika itu bersifat hirarkis, yaitu suatu materi merupakan prasayarat mempelajari materi berikutnya. Oleh karena itu, untuk mempelajari matematika hendaknya berprinsip pada hal-hal sebagai berikut. Pertama, materi matematika disusun menurut urutan tertentu atau setiap topik matematika disusun menurut urutan tertentu atau setiap topik matematika berdasarkan subtopik tertentu. Kedua, seorang peserta didik dapat memahami suatu topik matematika jika telah memahami subtopik pendukung atau prasyaratnya. Ketiga, perbedaan kemampuan antar peserta didik dalam mempelajari atau memahami suatu topik matematika dan dalam menyelesaikan masalahnya ditentukan oleh perbedaan penguasaan subtopik prasyaratnya. Dan Keempat, penguasaantopik baru oleh peserta didik tergantung pada penguasaan topik sebelumnya.

Menurut Herman Hudojo pelajaran matematika dan cara berpikir matematika mendasari disiplin pelajaran yang lain dan secara menakjubkan ternyata mengembangkan disiplin yang lain tersebut. Hal ini disebabkan cara kerja pelajaran matematika adalah sebagai berikut. (1)  Penyusunan model, yaitu mempresentasikan fenomena dunia yang penting dan berguna dengan merekonstruksikan mental secara visual atau simbol; (2)  Optimasi, yaitu mendapatkan penyelesaian yang terbaik dengan bertanya ”apa jika . . . . ” dan kemudian menjabarkan ke segala kemungkinan; (3)  Simbolisasi, yaitu memperluas bahasa dengan representasi simbolik sebagai konsep abstrak dalam bentuk yang ekonomis sehingga memungkinkan untuk komunikasi dan komputasi; (4)  Inferensi, yaitu menyimpulkan dari data, dari premis, dari grafik, dari sumber-sumber yang tidak lengkap dan konsisten. (5) Analisa logis, yaitu mencari implikasi dari premis-premis dan mencari prinsip-prinsip untuk menjelaskan fenomena yang diobservasi; dan (6) Abstraksi, yaitu memilih sesuatu untuk dipelajari secara khusus tentang sifat-sifat yang sama dari banyak fenomena yang berbeda-beda.

Dalam pembelajaran matematika, guru diharapkan untuk selalu mengaitkan pengetahuan awal dengan pengetahuan yang akan dipelajari. Harapan dari kegiatan tersebut adalah agar anak terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Pembelajaran matematika menurut pandangan konstruktivis adalah membantu siswa untuk membangunkonsep/prinsip tersebut akan terbangun kembali, sedangkan transformasi informasi yang diperoleh akan menjadi konsep/prinsip baru.

Dalam pembelajaran pemecahan masalah, peran guru lebih banyak sebagai fasilitator dan pemotivasi siswa. Tahapan-tahapan dalam pemecahan masalah, yakni(1) memahami masalah, (2) merancang cara memecahkan masalah, (3) menyelesaikan masalah, (4) mengecek kembali. Untuk menilai aktivitas siswa dalam pembelajaran pemecahan masalah, khususnya dalam kerja kelompok, perlu dikembangkan lembar pengamatannya. 

Related

Pembelajaran Matematika 8853606418296866905

Posting Komentar

emo-but-icon

Follow us !

Blogger news

Trending

Arsip Berita

Tayangan

Tabs

item