Implementasi Metode Problem Solving (Pemecahan Masalah) dalam Pembelajaran Matematika
https://habibmatematika.blogspot.com/2021/02/implementasi-metode-problem-solving.html
Dalam pembelajaran
melalui pemecahan masalah, peran guru lebih banyak sebagai fasilitator dan
pemotivasi siswa. Karena masalah (soal) yang diberikan atau yang ada dalam buku
siswa itu merupakan soal (masalah) yang jawabannya tidak tunggal, maka kejelian
guru dalam mengevaluasi hasil belajar sangat ditekankan.untuk menilai hasil
belajar pemecahan masalah tidak cukup hanya sekali ujian tulis pada akhir
kegiatan. Diperlukan penilaian yang berkelanjutan, misalnya melalui kuis, tugas
rumah, dan pembuatan jurnal (proyek). Dan yang tidak kalah penting adalah
pengamatan terhadap perilaku siswa selama proses pembelajaran berlangsung,
kususnya dalam diskusi kelompok.
Dalam proses pembelajaran matematika, harus dipahami bahwa matematika itu bersifat hirarkis, yaitu suatu
materi merupakan prasayarat mempelajari materi berikutnya. Oleh karena itu,
untuk mempelajari matematika hendaknya berprinsip pada hal-hal sebagai berikut. Pertama, materi matematika disusun menurut urutan tertentu atau setiap topik
matematika disusun menurut urutan tertentu atau setiap topik matematika
berdasarkan subtopik tertentu. Kedua,
seorang peserta didik dapat memahami suatu topik matematika jika telah memahami
subtopik pendukung atau prasyaratnya. Ketiga,
perbedaan kemampuan antar peserta didik dalam mempelajari atau memahami suatu
topik matematika dan dalam menyelesaikan masalahnya ditentukan oleh perbedaan
penguasaan subtopik prasyaratnya. Dan Keempat,
penguasaantopik baru oleh peserta didik tergantung pada penguasaan topik
sebelumnya.
Menurut Herman Hudojo pelajaran
matematika dan cara berpikir matematika mendasari disiplin pelajaran yang lain
dan secara menakjubkan ternyata mengembangkan disiplin yang lain tersebut. Hal
ini disebabkan cara kerja pelajaran matematika adalah sebagai berikut. (1) Penyusunan model, yaitu mempresentasikan fenomena dunia
yang penting dan berguna dengan merekonstruksikan mental secara visual atau
simbol; (2) Optimasi, yaitu mendapatkan penyelesaian yang terbaik
dengan bertanya ”apa jika . . . . ” dan kemudian menjabarkan ke segala
kemungkinan; (3) Simbolisasi, yaitu memperluas bahasa dengan representasi
simbolik sebagai konsep abstrak dalam bentuk yang ekonomis sehingga
memungkinkan untuk komunikasi dan komputasi; (4) Inferensi, yaitu menyimpulkan dari data, dari premis,
dari grafik, dari sumber-sumber yang tidak lengkap dan konsisten. (5) Analisa logis, yaitu mencari implikasi dari premis-premis
dan mencari prinsip-prinsip untuk menjelaskan fenomena yang diobservasi; dan (6) Abstraksi, yaitu memilih sesuatu untuk
dipelajari secara khusus tentang sifat-sifat yang sama dari banyak fenomena
yang berbeda-beda.
Dalam pembelajaran matematika, guru
diharapkan untuk selalu mengaitkan pengetahuan awal dengan pengetahuan yang
akan dipelajari. Harapan dari kegiatan tersebut adalah agar anak terlibat
secara aktif dalam proses pembelajaran. Pembelajaran matematika menurut pandangan konstruktivis adalah membantu
siswa untuk membangunkonsep/prinsip tersebut akan terbangun kembali, sedangkan
transformasi informasi yang diperoleh akan menjadi konsep/prinsip baru.
Dalam pembelajaran pemecahan masalah, peran guru
lebih banyak sebagai fasilitator dan pemotivasi siswa. Tahapan-tahapan dalam pemecahan masalah, yakni(1) memahami
masalah, (2) merancang cara memecahkan masalah, (3) menyelesaikan masalah, (4)
mengecek kembali. Untuk menilai aktivitas siswa dalam pembelajaran pemecahan
masalah, khususnya dalam kerja kelompok, perlu dikembangkan lembar
pengamatannya.



